Ready Mix

Proses Pencampuran Bahan Dasar Beton

proses pencampuran bahan dasar beton

Proses Pencampuran Bahan Dasar Beton karakteristik yang direncanakan dari beton segar dan kekuatannya. Ketika beton segar tentu akan ada kemudahan dalam proses pencampuran nya. Saat ini aktif beton yang mengeras dan dapat dikerjakan akan sulit untuk mencapai kekuatan tekan beton tinggi.

Penilaian agregat mempengaruhi sifat-sifat beton dihasilkan dengan mencampurkan agregat kasar dan halus harus memperhitungkan gradasi. Agregat menempati lebih dari 70% dari volume beton sangat mempengaruhi karakteristik beton segar. Pada umumnya pembuatan beton di Indonesia menggunakan agregat alam dalam bentuk agregat kasar dan agregat halus.

Namun, gradasi agregat tersedia tidak seragam untuk masing-masing lokasi. Desain campuran beton diatur dalam SK SNI T-15-1990-03 memberikan syarat bahwa agregat halus terdiri dari dari empat zona dan agregat kasar. Persiapan Sebelum penuangan beton dilakukan, terlebih dahulu harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Ruangan yang akan diisi beton harus bebas dari kotoran-kotoran yang mengganggu.
  • Untuk memudahkan pembukaan cetakan, permukaan bagian dalam cetakan dapat dilapisi dengan bahan khusus, seperti lapisan minyak mineral, lapisan kimia (form reeleas agent) atau lembaran poliuretan.
  • Dinding pasangan bata yang bersentuhan langsung dengan beton harus dibasahi dengan air sampai jenuh.
  • Tulangan harus bersih dan bebas dari lapisan penutup yang dapat merusak beton atau mengurangi ikatan antara beton dan tulangan.
  • Air yang terdapat dalam ruangan yang akan diisi beton harus dibuang, kecuali jika penuangan dilakukan secara tremi atau mendapat izin dari pengawas ahli.
  • Semua kotoran, serpihan beton dan bahan lain yang menempel pada permukaan beton yang mengeras harus dihilangkan sebelum beton baru dituangkan ke permukaan beton yang mengeras.

Dalam kasus tertentu, persiapan yang lebih rinci juga harus dilakukan. Untuk beton prategang misalnya, penyiapan bahan kimia seperti bonding agent untuk perekat antara lapisan beton baru dengan beton lama, atau grouting semen untuk memperbaiki bagian yang porous karena kurang kompaksi atau karena segregasi harus dilakukan.

Seperti Apa Proses Pencampuran Bahan Dasar Beton dan Pengecorannya?

Dosis

Takaran bahan penyusun beton yang dihasilkan dari hasil perancangan harus mengikuti ketentuan yang terdapat dalam pasal (3.3.2) SK.SNI.T-28-1991-03 tentang Tata Cara Pencampuran dan Pengecoran Beton Standar ASTM C.685 Dibuat Secara Volumetrik Batching and Continuous Mixing dan ASTM.94 sebagai berikut:

Beton yang mempunyai kuat tekan (f’c) lebih besar atau sama dengan 20 MPa, yang perbandingannya harus didasarkan pada pengukuran berat.

Beton yang mempunyai kuat tekan (f’c) lebih kecil dari 20 MPa proporsi dosis dapat menggunakan teknik pengukuran volume. Teknik tersebut harus didasarkan pada pengukuran berat konveksi ke dalam pengukuran volume setiap campuran bahan penyusunnya.

Pencampuran Beton

Proses pencampuran bahan dasar beton yaitu semen, air, pasir dan kerikil dengan perbandingan tertentu. Pencampuran dengan tangan dilakukan bila jumlah beton yang digunakan hanya sedikit. Pada proses pencampuran ini, terlebih dahulu agregat kasar dan halus dicampur secara kering pada tempat yang rata, bersih, keras dan tidak menyerap, kemudian dicampur dengan semen.

Pencampuran dilakukan hingga terlihat warna yang sama secara merata. Alat untuk mengaduk berupa cangkul, trowel, atau sekop. Kemudian di tengah adonan, buat baskom dan tambahkan air sekitar 75% dari jumlah air yang direncanakan. Campuran diulang dan sisa air ditambahkan sampai campuran merata.

Pencampuran dengan mesin dilakukan untuk pekerjaan besar yang menggunakan banyak beton. Pencampuran dengan mesin dilakukan agar beton lebih homogen dan lebih cepat. Mesin pengaduk beton juga diperlukan jika campuran beton yang dibuat sangat kental, karena sulit untuk mengaduk dengan tangan.

Mula-mula sebagian air (± 75% dari jumlah yang ditentukan) dimasukkan ke dalam bejana pencampur, kemudian agregat halus dan agregat kasar dan semen portland. Setelah diaduk rata, kemudian sisa air dimasukkan ke dalam bejana. Pengadukan dilanjutkan sampai warna campuran terlihat merata dan campuran juga homogen.

proses pencampuran bahan dasar beton

Waktu Pengadukan

Waktu pengadukan akan mempengaruhi sifat-sifat beton, jika pencampuran bahan-bahan terlalu pendek maka ikatan antar bahan beton akan berkurang. Sebaliknya pencampuran yang lama akan mengakibatkan peningkatan temperatur beton, keausan agregat sehingga agregat akan pecah, terjadinya kehilangan air sehingga diperlukan tambahan air, nilai slump meningkat, dan kekuatan beton berkurang.

Selama proses pencampuran, viskositas campuran beton harus dipantau terus menerus dengan memeriksa nilai slump yang disesuaikan dengan jarak pengangkutan. Kontrol dan jarak angkut harus dilakukan.

Mesin pengaduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengaduk yang bersifat mobile (dapat dipindahkan) dan berkapasitas kecil (mixer atau molen) dan pengaduk stasioner yang berkapasitas besar (batbhing plant).

Dari segi ekonomi, penggunaan mesin pencampur untuk pekerjaan beton berukuran besar justru akan mengurangi biaya. Campuran beton yang dihasilkan biasanya akan lebih homogen dan plastis. Pencampuran dengan mesin ini dilakukan sesuai dengan manual pengaduk.

Untuk beton siap pakai pencampuran dan pengangkutan harus memenuhi persyaratan ASTM.C94 Spesifikasi untuk Beton Siap Pakai atau Spesifikasi untuk Beton yang Dibuat dengan Batching Volumetrik dan Campuran Berkelanjutan.

Menurut SK.SNI.T-28-1991-03 Ps. (3.3.3), waktu pengadukan minimal untuk campuran beton yang volumenya lebih kecil atau sama dengan 1 m3 adalah 1,5 menit, dan ditambahkan selama 0,5 menit untuk penambahan 1 m3 beton.
Waktu pengadukan ini akan berpengaruh pada mutu beton. Jika terlalu dekat mencampur bahan kurang merata, sehingga pengikatan antara bahan-bahan beton akan berkurang. Sebaliknya, pengadukan yang terlalu lama akan mengakibatkan :

  • Naiknya suhu beton.
  • Keausan pada agregat sehingga agregat pecah.
  • Terjadinya kehilangan udara sehingga penambahan udara diperlukan.
  • Bertambahnya nilai kemerosotan.
  • Menurunya kekuatan beton.

Selama proses pengadukan, kekentalan campuran beton harus terus dilanjutkan dengan cara memeriksa nilai slump yang disesuaikan dengan jarak transportasi. Demikian penjelasan dari saya tentang Proses Pencampuran bahan dasar beton semoga bermanfaat, terimakasih.